Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~

Kamis, 31 Desember 2020

Penutup 2020

Hening, tidak seperti di luar sana yg ramai sekali. Entah kenapa tidak ada gairah mengistimewakan perayaan tahun baru. Tapi saya pikir tidak istimewa bagaimana tahun 2020 ini, sampai2 tidak mau merayakan pergantian tahun. Saya kira cerita tentang 2020 akan menjadi sesuatu yg luar biasa utk dibagikan kepada anak cucuk besok-lusa. Yasudah, karena tidak ikutan keluar duduk merayakan tahun baru, saya iseng mengingat momen terbaik yg pantas dijadikan kaleidoskop tahunan. Setelah mencari2 sembari tertunduk memainkan kaki, saya tidak menemukan momen yg pantas disebut terbaik dan sangat membahagiakan. Seperti kalian mungkin, tahun 2020 ini banyak kekecewaan. Banyak target melesat, banyak diluar ekspektasi, banyak membuat down, apa jangan2 itu yg terbaik untuk 2020? Hal2 yang saya rasa negatif ini mungkin pelipur hati kedepannya untuk belajar menerima keadaan.

Minggu, 29 November 2020

Menikmati Tugas Akhir

Bersama niat agar bisa mengerjakan tugas akhir dengan efisien, saya iseng menata bahan2 di kontrakan yg bisa dijadikan sumber. Setelah beberapa hari lalu membuka satu persatu dan menemukan materi yg bersangkutan dgn skripsi, saya mulai menumpuknya di atas meja samping kasur berjejeran dengan laptop. Maksud hati menjadikan sudut kamar ini tempat ndekem ternyaman (lebih nyaman mungkin) untuk masa akhir perkuliahan ini, daripada harus bolak-balik menuju perpustakaan mencari buku. Sedikit prinsip saya tugas akhir harus "dinikmati," tentu skripsi besar kemungkinan hanya sekali seumur hidup, nanggung juga sudah letih mengetik banyak tapi tidak dinikmati. Menikmati sedari memilih judul, pengerjaan, atau bahkan tambah menikmati dengan membantu bahan skripsi satu-dua kawan. Layar laptop itu menampilkan cuplikan one piece, tidak ada filosofi atau kaitan dari anime itu dengan skripsi saya, kalau dikait2kan mungkin (hmm) saya ingin bisa berkutat dgn tugas ini senikmat menyantap episode2 petualang bajak laut mugiwara.

Senin, 23 November 2020

Syair Dimu (Dirimu)

Dimu memukau dengan premis indahmu. Tapi mungkin aku belum bertemu dimu. Dimu santun dengan tindak-tandukmu, tapi aku tak tahu dimana saat ini dimu berada . Dimu penyejuk dalam lelahku, menghasut buang bebanku. Tapi mungkin kita belum mengenali masing2, atau mungkin hanya belum mengenal lebih dalam. Kita yang masing2 saat ini saling bertanya, bagaimana kelak kita berjumpa. Untuk dimu yg kelak membersamaiku jaga diri baik-baik, tempuh garis hidup itu hingga titik dimana kita bertemu.
Begitupun aku, akan aku tempuh sisi lain ruas garis ini dengan baik, sampai dimana dua ruas ini menyatu. Kemudian kita membangun dan mewujudkan utopia bersama dalam satu ruas garis itu.

Nilai

Di ruang kuliah (hukum tata negara) sering terdengar perbincangan mengenai standar nilai dalam masyarakat. Saya hampir tidak _ngeh_ terkait wujud nilai itu. Palingan seputar standar kesopanan, ah kalau tidak paling ya soal adat yang begitu2 saja. Mungkin karena saya  mmg tidak terlalu dekat dengan yang dibincangkan org sebagai nilai itu, karena sdh hampir 10 tahun tinggal di kota perantauan. Tapi saya baru sadar, bahwa nilai itu mmg tidak jauh dari identitas seseorang, termasuk saya jika ingin menemui nilai2 itu setidaknya harus bertemu dgn masyarakat dlm lingkup yang paling dekat, keluarga setidaknya. 
Hanyasaja saya mmg org dasarnya yg tidak tertarik hal status quo masyarkat dan keluarga. Sehingga sering abai soal itu. Masih penasaran apa itu nilai? Saya akhirnya sadar apa itu nilai yg dimaksud, sebenarnya tidak paham hanya menyadari (mbatin) saja. 

 Biasa, kalau kumpul2 keluarga tidak terlepas dari candatawa & umpat kasih. Apalagi antar sepupu sesama anak om, tentu terselip nasihat & rasa iba dlmnya. Kakak perempuan saya memulai dgn
cerita kisah idup seorang sepupu yg membuat kami terharu. Sesekali diselipi canda tawa kemudian bersambung kpd cerita mengenai rencana2 hidup kedepan sesama keluarga yg hidup di rantau. Saya tidak pernah menyangka bahwa obrolan santai itu bakal mengetuk hati, saya pribadi punya target & rencana hidup (tidak disertai nilai2 itu). Kekeh ingin mencapai target itu. Namun sore tadi nasihat abang saya kepada saya, kedepan ada kasih yg harus disebar kepada kerabat2 dekat, kepada paman-bibi, saudara, ponakan, kepada orang tua pasti. Termasuk jika memilih langkah hidup kedepan pikirkan langkahmu apakah sesuai untuk mereka2 yg setidaknya sudah berjasa untukmu sejak lahir hingga kau mati nanti. Dari situ saya adanya wujud nilai itu. Letaknya berada di hati (metafisik), sehingga nilai itu mengetuk hati. Sulit dijelaskan, saya yakin kawan sekalian punga nilai2 yg menjadi standar dalam bertindak. Obrolan itu berpuncak pada saya yg memohon agar kakak perempuan untuk jgn cepat2 jauh dari kami (berkeluarga). Saya orangnya gengsi, apalagi sama keluarga kandung, tapi oleh karena nilai itu saya berani bercakap dan berlinang terkait itu kepada kakak saya. Untung kakak saya menjawab dengan canda, kalau tidak mungkin saya dan abang saya sudah tambah haru sejadi2nya. Nilai itu memang harus ada dalam tindakan, jika tidak bertindak aesuai setidaknya berpedoman kepada nilai2 itu. Barangkali dalam nilai2 itu kebahagiaanmu dapat tercapai.

Jujurnya Orator

Ada seorang rekan, bisa dikatakan sebagai singanya podium. Orator ulung, bukan main kalau beretorika. Namun berbeda beberapa bulan ini. Biasanya cakap banyak, menjadi cenderung banyak diamnya. Respon terhadap kata2 orang lain pun terkadang hanya mengangguk. Wajar bila mengira ada perubahan psikologis yang besar, sehingga sang pandai cakap jadi pandai diam. Wajar pula jika rekannya mengira dia punya masalah besar.Sampai pada sebuah lingkar diskusi, isunya hangat, kalau tidak salah terkait Pancasila. Sudah rindu ingin melihat kawan ini bersilat lidah. Saat forum, retorikanya pun memburuk (menurut saya), beberapa kali seperti terbata memikirkan kata yang tepat untuk diucap. Kemudian saya temui rekan ini, menanyakan perihal apa dan mengapa. Rautnya saat menjawab pun berbeda. "Seharusnya kalau sudah segini perjalanan intelektual kita, tidak perlu berajang pamer retorika. Saya lebih tidak puas mengungkapkan definisi yang keliru dan mengelirukan orang lain, daripada tampak memukai di forum. Retorika banyak hanya menipu orang saja, padahal intelektualisme perlu kejujuran dalam logika dab kata-kata."

Dilema, Cogito Descrates

Pernah ada di posisi enggan menentukan antara dua pilihan? Maksudnya karena tidak tahu lagi antara yang benar atau salah. Mungkin lebih tepatnya karena bimbang yang mendalam. Hehe, bukan hanya pikir saja yang bisa demikian, bimbang juga. Justru ini karena pikiran sudah habis dikuras dan tidak kunjung bertemu jawbaan yg tepat. Itukah yg disinggungung Descrates dengan cogito-nya (meragukan), semua harus diragukan, dlm hal ini bimbang adalah puncak keraguan. Seolah2 kita menemukan kebenaran di tempat yg menurut kita salah, dan kesalahan di tempat yg menurut kita benar. Lantas kita ragu untuk memilih. Kemudian mendefinisikan lagi salah dan benar dengan penuh keraguan. Ampun, kawula ini betul bimbang mendalam.

Antara Sang Surya dan Yalal Wathan

https://www.ashrambangsanews.com/2020/09/saya-hanya-ingin-ikut-ikutan-untuk.html
Tulisan yg keren dari seorang yg tidak  saya kenal
Izin ikut menanggapi, literasi dinikmati dengan literasi
***

Saat menyanyikan Yalal Wathan bersama di dalam MP tahun 2017 saya hanya komat-kamit saja. Asli, baru dengar lagu itu saat PBAK. Tapi syukur, alunan syairnya menggebu, lirik kebangsaannya dapat, saya sampai hafal dan sering menyanyikannya sekarang. Sebenarnya saya berstreotype yg sama seperti Maba yg dimaksud di tulisan itu (tapi bukan untuk ideologisasi terselubung loh ya), mungkin karena saya MM dan yg fasih melantangkan lagu itu -menurut saya- rekan2 dari NU. Saya jadi teringat saat Makrab kelas dua bulan setelah jadi Mahasiswa UIN, ketika setelah rekan2 kelas menyanyikan lagu Yalal Wathan, saya bersama beberapa kawan melingkar sendiri menyanyikan Sang Surya. Ngapain itu lo~

Semakin kesini saya sadar, kalau lagu Sang Surya ya seharusnya tidak ditarungkan dengan Yalal Wathan. Termasuk kritik saya atas diri saya dulu dan saran seorang sahabat Solekhan yg dikutip tulisan status sebelum ini. Saran yang bodoh menurut saya ketika menyarankan lagu Sang Surya diputar saat PBAK agar fair. Mbok ya kalau saran jangan segitunya :( , inkonsisten kalau menekankan Yalal Wathan lagu kebangsaan sementara saranin nyanyiin lagu ormas, tidak apple to apple toh Mass. Harusnya saranin aja Muhammadiyah juga create lagu kebangsaan yang semenggelegar Yalal Wathan. Lumayan kan koleksi lagu kebangsaan tambah banyak. Kalau pas PBAK diputer juga anak UIN jadi indonesia banget wqwq. Terima kasih sudah menyimak status unfaedah ini. Hubbul Wathan Minal Iman!

Wadah dan Wayah

Tengah malam begini, sembari menunggu saudari datang membawa makan malam, saya teringat satu hikmah. Saya lupa siapa yg memberi tahu dulu, yg jelas saya tiba2 teringat. Intinya kata dia manusia tidak dapat berlama2 punya masa jaya dalam suatu wadah. Manusia disini kata dia ibarat air yg senantiasa memenuhi wadah yg ia tempati. Ketika masuk ke wadah baru maka manusia akan mengisi wadah itu dari kekosongan. Alamiah senantiasa mengisi wadah itu hingga batasnya tiba. Sembari memperhatikan gelas diatas meja buku, saya membayangkan kalau menikmati tinggal di wadah yg sama utk jangka waktu yg lama adlh sia2, atau sama dgn membuang2 kebermanfaatan untuk mengisi wadah yg lain. Namun artian disini adalh ketika wadah itu sudah terisi penuh, sudah memberi jejak yang bermanfaat, sehingga sudah _wayahnya_ menuju wadah yg lain yg menunggu utk diberi manfaat. Lantas _overthinking_ menyapa saya utk mencari wadah baru itu.

Musik dan Pakar HTN

Waktu itu sempat membaca buku sejarah, saya dapat informasi kalau musik dulunya termasuk  rumpun matematika. Saya penasaran kenapa demikian. Saya yang berpandangan matematika soal rumus dan angka akhirnya mengulik hal ini dengan Rusdi Firdaus. Sembari berbincang dan birfilsafat ringan kami berdua dengan gitar masing2 asik mencari nada. Saya menikmati, gumam hati ini matematika yang asyik. Apalagi kemarin baru saja melihat Zainal Arifin Mochtar dan Irman Putra Sidin memamerkan kegemarannya bermain gitar. Begitu tau cara pakar HTN itu menikmati hidup, oh saya semakin menggebu.

Bagaimana Saya Menjadi Muhammadiyah?

Saya memutar kembali ingatan, kalau dikatakan mempunyai kartu anggota, saya baru menjadi muhammadiyah tahun 2017. Kalau berdasar rekam fiqih saya menjadi muhammadiyah kelas 1 tsanawiyah, ketika saya mengubah niat sholat dari "nawaitu" menjadi "bismillah" ala2 tarjih. Kalau dikatakan karena keluarga saya muhammadiyah, sebenarnya keluarga inti saya tidak ada yg menjadi kepengurusan Muhammadiyah. Saat menulis ini, saya bertanya2 kembali apa sebab saya menjadi muhammadiyah, dan saya tidak bertemu jawaban yg pasti. 
Saya berefleksi, jika menjadi muhammadiyah adalah ketika menjadi kader ideologis, jujur banyak tindak-tanduk saya yg tidak muhammadiyah. 
Bahkan sampai pada kesimpulan: "Jangan2 saya memang belum menjadi muhammadiyah?"
Jika begitu, karena belum menjadi muhammadiyah,
saya hanya ingin mengabdi pada muhammadiyah saja. Pengabdian itu dgn menghidupi muhammadiyah dari diri sendiri kemudian pada ortom. Setidaknya alasan  yg bisa dibuat2 agar dicap menjadi muhammadiyah adalah karena unsur pengabdian itu.Dan saya bersaksi tekad pengabdian itu saya temukan dari pengabdian Muhammadiyah. Betapa luar biasa pengabdiannya untuk agama dan kemanusiaan.  #TerimaKasihMuhammadiyah #Milad108

Manusia Satu Perspektif

Ternyata kita memang dicipta untuk menilai dari satu perspektif. Saya kira demikian serta merta agar kita mencari perspektif lain. Agar pula titah Sang Maha yang menyuruh kita untuk mencari tahu (mencari ilmu/membaca) dapat kita lakukan. Tidak mengetahui perspektif lain sama saja membuat bencana. Hal itu dikarenakan kita tidak saling paham dan sehingga dapat salah paham. Mungkin tanpa hasutan nafsu, salah paham adalah sebab utama  masalah dalam sejarah manusia. Siapa yang kira setengah juta kawula nusantara awal orba mati karena salah paham dewan jendral. Andai saya dikasih satu permintaan yang pasti dikabulkan sebagai syarat "kedamaian," kelak saya memohon manusia memiliki sejuta perspektif. *** Ah, nampaknya tidak juga. Saya hanya membual dengan perspektif sendiri soal syarat "kedamaian" itu.

Sabtu, 25 Juli 2020

Nasib Baik

Dalam beberapa hal, nasib baik adalah tidak dikenali. Cukup baik adalah dikenali tapi sedikit. Nasib buruk adalah dikenali seluruhnya. 

Dengan tidak dikenali kau dapat menjadi siapa yang kau ingin, bebas dari nilai-nilai dan kategorisasi yang menyandera ekspresimu. 

Jika kau baik, kau tidak dicari karena baikmu, begitupun jika buruk, kau tidak dijauhi karena itu. 

Termasuk upaya untuk tidak dikenali adlh membaur dengan hal baru, sedikit sembunyi dari predikat oleh orang lain.

Sekalipun akhirnya kau akan dikenali, setidaknya nilai-nilai itu tidak begitu menghambat aktualisasi dirimu. 

Kau adalah wadah, bentukmu adalah wadahmu, hakikatmu adalah isinya. Bentuknya boleh berganti, boleh kau bagi, boleh kau cari, boleh kau ubah.

Asal bermanfaat!

Sabtu, 18 Juli 2020

Sambil niat beres-beres kontrakan

Sambil 'berniat' melanjutkan beres-beres kontrakan saya menyalakan laptop butut ini.
Agar asik ditemani cover musik oleh ECLAT, niatnya biar energi dan mood nulis jadi banter.
Ya pokoknya gitu, malam ini saya tidak betul-betul niat buat ngetik postingan.
Cuma bisik hati saya rugi kalau sudah berbulan-bulan enggak nulis perihal pribadi,
apalagi di blogger yang enam tahun lalu saya janjikan bakal menjadi teman hidup saya.
***

Dua minggu lalu (kalau gak salah ya), saya iseng membuka postingan di platform blogger yang pernah saya tulis.
Kesimpulan yang saya tangkap pertama kali ternyata kualitas tulisan saya sedikit berkembang.
Berkembang hanya soal tanda baca sih sebenarnya, misal dulu saya sembarang menulis huruf besar-kecil, atau soal tanda-tanda baca yang jauh dari kaidah tata bahasa indonesia yang baik.
Asli, selebihnya tidak ada~

Namun tulisan-tulisan saya bertahun-tahun lalu seakan mengetuk kesadaran saya.
Pada bab-bab nasihat untuk diri sendiri, ketika membacanya, 
saya menemukan nasihat yang betul menggugah.

Akibat itu saya mengencangkan lagi pola hidup dan arah hidup yang kian amburadul.
Sedikit contohnya adalah saya yang sekarang ini jauh dari kata religius.
Mungkin untuk karib yang baru bertemu dengan saya saat jenjang perkuliahan mempunyai impresi terhadap saya sebagai mahasiswa yang urak-urakan.
Diri ini sendiri pun merasa demikian.

Sekarang saya coba-coba lagi menjadi 'agak' religius.

Tapi, susah.
Saya seakan menemukan diri saya dulu berbeda dengan diri saya sekarang yang sedang mengetik postingan ini.

Mungkin dulu saya agak religius karena faktor anak pondok.
Sudah begitu di pondok keseharian bergaul dengan teman-teman kelas MAK.
Sudah begitu anak-anak MAK yang punya target menjadi alim-ulama', minimal menjadi lulusan timur tengah.
Sudah begitu, saya pun begitu.
Berpola hidup dan target hidup seperti rekan-rekan MAK.

Potongan bait yang sangat menyentuh adalah terkait cinta pada yang di-Atas.
Ketika itu saya berefleksi setelah melihat indahnya cipataannya, saya berkesimpulan apalagi (indahnya) Dia yang menciptakan.
Adapula refleksi diri saya atas wujud ketaatan kepada yang di-Atas, apakah ketaatan karena surganya, ataukah ketaatan karena kasih dan segala yang dia beri.

Sekarang boro-boro berbicara soal cinta dan taat karena apa, menjadi taat saja sudah susah :).

Sekali lagi saya betul-betul merasa menjadi diri yang jauh berbeda dengan yang dulu.
Sedikit harap ingin memperbaiki diri lagi, sekalipun harap saya sedikit, saya yakin harap ini kuat.
Tulisan-tulisan saya dahulu yang menggugah harap ini, dan membuat saya berefleksi sejauh ini.

Termasuk niat nulis yang saya paksa-paksakan malam ini.
Ini tidak lain berasal dari pelajaran yang saya ambil dari tulisan saya dulu.
Tentu tulisan ini akan saya baca lagi pada bertahun-tahun kedepan.
Dan berpola menjadi wujud reflektif atas diri saya sendiri kedepan pula.

***
Jadikan dirimu saat ini menjadi refleksi atas dirimu di masa depan.
Maksudnya, tulisanmu saat ini adalah dirimu saat ini, tulisanmu dulu adalah dirimu dahulu.
Kamu akan menemukan sisi dirimu yang berbeda sejalan berkembangnya usia.
Ajak dirimu yang dulu untuk menasihati dirimu saat ini, atau calon dirimu di masa depan dengan mengabdikan nilai dan hikmah melalui tulisan.

Karena yang terbaik yang bisa menasihatimu adalah dirimu sendiri.
.
.
.
.
.
.
Salam untuk Aku di masa mendatang,
dari Fayasy seorang mahasiswa tua di sebuah kamar kontrakan di Yogyakarta.