Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~

Selasa, 16 Oktober 2018

Bagaimana aliran kepercayaan menambah keberagamaan saya

 Saya akan mengantarkan hikmah ini dengan sedikit bercerita. Sebenarnya hari itu termasuk dalam hari-hari kelam saya, hari-hari yang saya lalui begitu saja, hanya bangun pagi kemudian menanti malam untuk terlelap kembali. 

Sebagai mantan santri dalam sudut pandang sosial sangat tidak becus apabila menghabiskan waktu tanpa manfaat, karena sosok dambaan bertajuk 'santri' tidak demikian, setidaknya dalam waktu luang boleh lah ia berbuat yang baik dan memberi kebermanfaatan, sebagaimana salah satu arti dari santri yang saya kutip _"saalikun Ilal 'akhirah."_ yang maknanya berjalan menuju akhirat (hal yang baik). 

Utopis sekali kan? Hehe, itu hanya basa-basi. 

Sampailah pada sore di lantai dua gedung megah ber-arsitektur jawa di Gondokusuman Yogyakarta yang bernama Sapta Rengga. Duduk disitu lebih dari dua puluh hamba tuhan, masing-masing terhitung lebih banyak pemuda, ada beberapa Pak tua yang dari rona wajah sudah bisa ditebak bahwa mereka akrab dengan kebaikan. Berangkat dari judul kunjungan kami(YIPC Yogyakarta) ke sana adalah bentuk silaturahmi ke aliran kepercayaan sebenarnya sudah saya berduga yang tidak-tidak, saya langsung memasang praduga "kesyirikan" beserta makna sejanis, yang tentunya tidak saya ungkap.

Dengan hati yang menolak saya justru memasang tampang yang tidak demikian, saya berusaha mengimbangi wajah ramah bapak tua yang dengan santun menjelaskan bagaimana mereka menjalankan aliran kepercayaan yang mereka anut, sesekali saya mencoba mengangguk berusaha menghargai apa yang bapak itu sampaikan.

Saya terenyuh waktu Si Bapak menjadi imam berdo'a sebelum majelis di mulai, seketika para pengikut aliran kepercayaan bersedekap khusyuk, sedang saya tidak berdo'a sama sekali, hanya memandang aneh cara berdo'a mereka. Ternyata mereka bisa begitu khusyuk menghadap Tuhan, sedikit iri saya, namun Tuhan yang mana? Begitu tanya saya yang mengembalikan saya ke posisi awal dengan dugaan yang tidak-tidak.

Itu adalah hal pertama yang membuat saya sedikit kagum, hal kedua yang membuat saya juga demikian adalah ketika perkenalan, Si Bapak yang merupakan salah satu imam dari aliran kepercayaan Sapta Dharma ternyata adalah dosen di salah satu universitas di Jakarta, jejak akademik nya pun menawan, begitu tahu sekejap saya hampir menghilangkan praduga negatif saya, padahal awalnya saya mengira hanya orang biasa. 

Begitu juga para pengikut aliran tersebut, mereka mempunyai latar belakang berbeda-beda, banyak yang berpendidikan, apalagi yang punya status sosial yang baik. Padahal awalnya saya mengira isinya adalah orang buangan, yang sudah tidak kuat menghadap dunia dan memilih membuang diri di Sapta Dharma.

Konsep penyembahan mereka adalah kepada Allah, tiap-tiap tindakan yang hendak mereka lakukan selalu diusahakan untuk mengucap tiga kalimat yang memuji Allah. "Allah maha agung, Allah maha Rokhim, Allah maha Adil." Begitu yang mereka ucap dengan lafal Jawa.

Ya Allah, bahkan saya tidak demikian.

Belum sempurna memang sore itu saya mengenal Sapta Dharma, namun yang saya dapatkan disamping rasa kagum adalah iri. Bagaimana mereka dengan cara lain begitu khusyuknya menyembah Tuhan yang juga saya sembah, sedangkan saya yang yakin dengan cara saya tidak. 

Kebaikan yang mereka perbuat pun tidak bisa saya imbangi, ajaran aliran mereka dalam "wewarah tujuh" yang mereka percaya betul-betul tulus. Terlebih ketika berpamitan selepas forum mereka malantunkan do'a bagi masing-masing kami, do'a yang tulus dan mulia.

Saya kembali iri, dan sangat iri.

Mereka mungkin tidak berbuat sebagaimana syari'at yang saya sendiri tidak konsisten menjalankannya, tetapi tindak yang mereka lakukan sungguh indah, melebihi indahnya perbuatan saya dalam beragama.

Saya menutup tulisan ini dengan harap, agar setiap-tiap hamba yang mencari kebenaran akan berakhir pada tempat yang benar, dan dibimbing selalu oleh Sang benar.

Allah.