Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~

Kamis, 19 Desember 2019

Tersandera Tanggungjawab

Intermesso.

Hei kawan.
Apa kabar?

Sudah berapa kali jatuh cinta?
Ingat, jangan cepat-cepat.
Bukannya kau sendiri yg bertitah ingin fokus pada cita-cita (entah hendak jadi apa). 
Atau, fokus pada hal-hal yang berguna untuk suksesmu. 

Kekancan, ngopi, baca buku, gawean organisasi mahasiwa. 
Kiranya banyak yang lebih perlu kau lakukan anak muda.

---

(Hilih)
Mari bucin saja, lebih asik.
Jangan capek-capek ngurus urusan orang.
Jangan kepolen sinau.
Katanya.

--

Entah, di usia segini hal-hal yang seharusnya penting dan seharusnya tidak penting menjadi sama saja. 
Jujur, akhir-akhir ini, diri ini sering berbuat sekedar menyelesaikan tanggung jawab 
atau hal2 yg datang dan mintauntuk diselesaikan.
Lomba, diskusi, organisasi, seolah hanya rutinitas yg dtaang sendirinya.
 Selepas dilakukan datang lain yg minta diselesaikan juga.

Mungkin ini fase hidup tersandera oleh tanggungjawab.
Tanggungjawab seakan mengalahkan banyak keinginan.

Saya sampai bisa membuat quote 
(asek..)
"Jangan biarkan targetmu mengabaikan tanggungjawabmu." 
Karena banyak yang melalaikan tanggungjawab hanya karena mengejar target, 
ingin ini-itu padahal ada wajib ini-itu yg terabaikan.

Oke sip. Ini fase penyelesaian tanggungjawab, 
harus matang2 memasang target, harus bisa diimbangi dgn tanggungjawab.

Bismillah, semoga setumpuk tanggungjawab hari ini dapat selesai dengan baik.

Terkutuk rasa tahu

Mereka berkabung,
setelah tahu apa yang mereka tak tahu.
Bukan lagi menetes, air matanya habis.

Sudah tahu pertanda apa?

Semua makhluk habis disumpahserapahi.
Terkutuk rasa tahu, menyedihkan sekali.
Lisan mereka berucap tiap malam:

"Jadikan aku lupa, kembalikan bodohku."

Begitu terus-menerus.
Mereka tahu, kemudian tak berbuat.
Merke yang mengerti, tapi "sok" lupa pada yang Diatas.

Pencitraan

Citra, mahal.
Kacamata manusia wajib bermerk pencitraan.
Jika tidak, terlupakan adalah jawaban.
Mungkin hakikatnya manusia cinta estetika.
Kemudian mencoba paling estetik.
Paling indah pencitraanya.

Selamat malam.

Munafik mengaku munafik

Penipu yang mengaku penipu.
Adakah dia masih penipu?
Pun munafik yang mengaku munafik.
Atau, diri yang terlalu bodoh,
sembarang mengutuk.
Terlebih dengan tanpa merenung.

Munafik yang mengaku munafik,
lebih jujur darimu yang diam saja.
Kabut yang membutakan, tak akan bisa meniadakan mentari.
Ibn Athaillah memperumpamakan:
Bagaimana bisa sesuatu menghalangi-Nya,
padahal dia lebih jelas dari segala sesuatu?

Itulah, terkadang sesuatu yang tampak bukanlah apa-apa.
Termasuk akal fikirmu yang berusaha meragukan kebesarannya.


Hidup saja dengan Surgamu

Sana hidup sendiri dengan surgamu!
Jika mereka menjadi bakal penghuni, usir saja!
Bukankah kau yang mengucap layak-tidaknya?
Kalau mau jadi Tuhan saja!

Tidak tercermin kearifan bak baginda Nabi,
Hidup saja seperti itu, terus begitu!

Jongos

Menjadi jongos di tanah nenek moyang.
Apakah itu tidak lebih hina daripada meludahi wajah sendiri?

Aku pikir semilir angin malam dapat membuatmu merenung.
Semangat itu jangan sampai luntur, kata orang teruslah membara.

Percuma

Kau ditakdirkan menjadi Singa.
Tapi pilih laut untuk hidup.
Apa gunanya?
Berjuta kali mencelup badai pun,
 tetap kalah oleh anakan Teri.