Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~
Minggu, 29 November 2020
Menikmati Tugas Akhir
Bersama niat agar bisa mengerjakan tugas akhir dengan efisien, saya iseng menata bahan2 di kontrakan yg bisa dijadikan sumber. Setelah beberapa hari lalu membuka satu persatu dan menemukan materi yg bersangkutan dgn skripsi, saya mulai menumpuknya di atas meja samping kasur berjejeran dengan laptop. Maksud hati menjadikan sudut kamar ini tempat ndekem ternyaman (lebih nyaman mungkin) untuk masa akhir perkuliahan ini, daripada harus bolak-balik menuju perpustakaan mencari buku. Sedikit prinsip saya tugas akhir harus "dinikmati," tentu skripsi besar kemungkinan hanya sekali seumur hidup, nanggung juga sudah letih mengetik banyak tapi tidak dinikmati. Menikmati sedari memilih judul, pengerjaan, atau bahkan tambah menikmati dengan membantu bahan skripsi satu-dua kawan. Layar laptop itu menampilkan cuplikan one piece, tidak ada filosofi atau kaitan dari anime itu dengan skripsi saya, kalau dikait2kan mungkin (hmm) saya ingin bisa berkutat dgn tugas ini senikmat menyantap episode2 petualang bajak laut mugiwara.
Senin, 23 November 2020
Syair Dimu (Dirimu)
Dimu memukau dengan premis indahmu. Tapi mungkin aku belum bertemu dimu. Dimu santun dengan tindak-tandukmu, tapi aku tak tahu dimana saat ini dimu berada . Dimu penyejuk dalam lelahku, menghasut buang bebanku. Tapi mungkin kita belum mengenali masing2, atau mungkin hanya belum mengenal lebih dalam. Kita yang masing2 saat ini saling bertanya, bagaimana kelak kita berjumpa. Untuk dimu yg kelak membersamaiku jaga diri baik-baik, tempuh garis hidup itu hingga titik dimana kita bertemu.
Begitupun aku, akan aku tempuh sisi lain ruas garis ini dengan baik, sampai dimana dua ruas ini menyatu. Kemudian kita membangun dan mewujudkan utopia bersama dalam satu ruas garis itu.
Nilai
Di ruang kuliah (hukum tata negara) sering terdengar perbincangan mengenai standar nilai dalam masyarakat. Saya hampir tidak _ngeh_ terkait wujud nilai itu. Palingan seputar standar kesopanan, ah kalau tidak paling ya soal adat yang begitu2 saja. Mungkin karena saya mmg tidak terlalu dekat dengan yang dibincangkan org sebagai nilai itu, karena sdh hampir 10 tahun tinggal di kota perantauan. Tapi saya baru sadar, bahwa nilai itu mmg tidak jauh dari identitas seseorang, termasuk saya jika ingin menemui nilai2 itu setidaknya harus bertemu dgn masyarakat dlm lingkup yang paling dekat, keluarga setidaknya.
Hanyasaja saya mmg org dasarnya yg tidak tertarik hal status quo masyarkat dan keluarga. Sehingga sering abai soal itu. Masih penasaran apa itu nilai? Saya akhirnya sadar apa itu nilai yg dimaksud, sebenarnya tidak paham hanya menyadari (mbatin) saja.
Biasa, kalau kumpul2 keluarga tidak terlepas dari candatawa & umpat kasih. Apalagi antar sepupu sesama anak om, tentu terselip nasihat & rasa iba dlmnya. Kakak perempuan saya memulai dgn
cerita kisah idup seorang sepupu yg membuat kami terharu. Sesekali diselipi canda tawa kemudian bersambung kpd cerita mengenai rencana2 hidup kedepan sesama keluarga yg hidup di rantau. Saya tidak pernah menyangka bahwa obrolan santai itu bakal mengetuk hati, saya pribadi punya target & rencana hidup (tidak disertai nilai2 itu). Kekeh ingin mencapai target itu. Namun sore tadi nasihat abang saya kepada saya, kedepan ada kasih yg harus disebar kepada kerabat2 dekat, kepada paman-bibi, saudara, ponakan, kepada orang tua pasti. Termasuk jika memilih langkah hidup kedepan pikirkan langkahmu apakah sesuai untuk mereka2 yg setidaknya sudah berjasa untukmu sejak lahir hingga kau mati nanti. Dari situ saya adanya wujud nilai itu. Letaknya berada di hati (metafisik), sehingga nilai itu mengetuk hati. Sulit dijelaskan, saya yakin kawan sekalian punga nilai2 yg menjadi standar dalam bertindak. Obrolan itu berpuncak pada saya yg memohon agar kakak perempuan untuk jgn cepat2 jauh dari kami (berkeluarga). Saya orangnya gengsi, apalagi sama keluarga kandung, tapi oleh karena nilai itu saya berani bercakap dan berlinang terkait itu kepada kakak saya. Untung kakak saya menjawab dengan canda, kalau tidak mungkin saya dan abang saya sudah tambah haru sejadi2nya. Nilai itu memang harus ada dalam tindakan, jika tidak bertindak aesuai setidaknya berpedoman kepada nilai2 itu. Barangkali dalam nilai2 itu kebahagiaanmu dapat tercapai.
Jujurnya Orator
Ada seorang rekan, bisa dikatakan sebagai singanya podium. Orator ulung, bukan main kalau beretorika. Namun berbeda beberapa bulan ini. Biasanya cakap banyak, menjadi cenderung banyak diamnya. Respon terhadap kata2 orang lain pun terkadang hanya mengangguk. Wajar bila mengira ada perubahan psikologis yang besar, sehingga sang pandai cakap jadi pandai diam. Wajar pula jika rekannya mengira dia punya masalah besar.Sampai pada sebuah lingkar diskusi, isunya hangat, kalau tidak salah terkait Pancasila. Sudah rindu ingin melihat kawan ini bersilat lidah. Saat forum, retorikanya pun memburuk (menurut saya), beberapa kali seperti terbata memikirkan kata yang tepat untuk diucap. Kemudian saya temui rekan ini, menanyakan perihal apa dan mengapa. Rautnya saat menjawab pun berbeda. "Seharusnya kalau sudah segini perjalanan intelektual kita, tidak perlu berajang pamer retorika. Saya lebih tidak puas mengungkapkan definisi yang keliru dan mengelirukan orang lain, daripada tampak memukai di forum. Retorika banyak hanya menipu orang saja, padahal intelektualisme perlu kejujuran dalam logika dab kata-kata."
Dilema, Cogito Descrates
Pernah ada di posisi enggan menentukan antara dua pilihan? Maksudnya karena tidak tahu lagi antara yang benar atau salah. Mungkin lebih tepatnya karena bimbang yang mendalam. Hehe, bukan hanya pikir saja yang bisa demikian, bimbang juga. Justru ini karena pikiran sudah habis dikuras dan tidak kunjung bertemu jawbaan yg tepat. Itukah yg disinggungung Descrates dengan cogito-nya (meragukan), semua harus diragukan, dlm hal ini bimbang adalah puncak keraguan. Seolah2 kita menemukan kebenaran di tempat yg menurut kita salah, dan kesalahan di tempat yg menurut kita benar. Lantas kita ragu untuk memilih. Kemudian mendefinisikan lagi salah dan benar dengan penuh keraguan. Ampun, kawula ini betul bimbang mendalam.
Antara Sang Surya dan Yalal Wathan
https://www.ashrambangsanews.com/2020/09/saya-hanya-ingin-ikut-ikutan-untuk.html
Tulisan yg keren dari seorang yg tidak saya kenal
Izin ikut menanggapi, literasi dinikmati dengan literasi
***
Saat menyanyikan Yalal Wathan bersama di dalam MP tahun 2017 saya hanya komat-kamit saja. Asli, baru dengar lagu itu saat PBAK. Tapi syukur, alunan syairnya menggebu, lirik kebangsaannya dapat, saya sampai hafal dan sering menyanyikannya sekarang. Sebenarnya saya berstreotype yg sama seperti Maba yg dimaksud di tulisan itu (tapi bukan untuk ideologisasi terselubung loh ya), mungkin karena saya MM dan yg fasih melantangkan lagu itu -menurut saya- rekan2 dari NU. Saya jadi teringat saat Makrab kelas dua bulan setelah jadi Mahasiswa UIN, ketika setelah rekan2 kelas menyanyikan lagu Yalal Wathan, saya bersama beberapa kawan melingkar sendiri menyanyikan Sang Surya. Ngapain itu lo~
Semakin kesini saya sadar, kalau lagu Sang Surya ya seharusnya tidak ditarungkan dengan Yalal Wathan. Termasuk kritik saya atas diri saya dulu dan saran seorang sahabat Solekhan yg dikutip tulisan status sebelum ini. Saran yang bodoh menurut saya ketika menyarankan lagu Sang Surya diputar saat PBAK agar fair. Mbok ya kalau saran jangan segitunya :( , inkonsisten kalau menekankan Yalal Wathan lagu kebangsaan sementara saranin nyanyiin lagu ormas, tidak apple to apple toh Mass. Harusnya saranin aja Muhammadiyah juga create lagu kebangsaan yang semenggelegar Yalal Wathan. Lumayan kan koleksi lagu kebangsaan tambah banyak. Kalau pas PBAK diputer juga anak UIN jadi indonesia banget wqwq. Terima kasih sudah menyimak status unfaedah ini. Hubbul Wathan Minal Iman!
Wadah dan Wayah
Tengah malam begini, sembari menunggu saudari datang membawa makan malam, saya teringat satu hikmah. Saya lupa siapa yg memberi tahu dulu, yg jelas saya tiba2 teringat. Intinya kata dia manusia tidak dapat berlama2 punya masa jaya dalam suatu wadah. Manusia disini kata dia ibarat air yg senantiasa memenuhi wadah yg ia tempati. Ketika masuk ke wadah baru maka manusia akan mengisi wadah itu dari kekosongan. Alamiah senantiasa mengisi wadah itu hingga batasnya tiba. Sembari memperhatikan gelas diatas meja buku, saya membayangkan kalau menikmati tinggal di wadah yg sama utk jangka waktu yg lama adlh sia2, atau sama dgn membuang2 kebermanfaatan untuk mengisi wadah yg lain. Namun artian disini adalh ketika wadah itu sudah terisi penuh, sudah memberi jejak yang bermanfaat, sehingga sudah _wayahnya_ menuju wadah yg lain yg menunggu utk diberi manfaat. Lantas _overthinking_ menyapa saya utk mencari wadah baru itu.
Musik dan Pakar HTN
Waktu itu sempat membaca buku sejarah, saya dapat informasi kalau musik dulunya termasuk rumpun matematika. Saya penasaran kenapa demikian. Saya yang berpandangan matematika soal rumus dan angka akhirnya mengulik hal ini dengan Rusdi Firdaus. Sembari berbincang dan birfilsafat ringan kami berdua dengan gitar masing2 asik mencari nada. Saya menikmati, gumam hati ini matematika yang asyik. Apalagi kemarin baru saja melihat Zainal Arifin Mochtar dan Irman Putra Sidin memamerkan kegemarannya bermain gitar. Begitu tau cara pakar HTN itu menikmati hidup, oh saya semakin menggebu.
Bagaimana Saya Menjadi Muhammadiyah?
Saya memutar kembali ingatan, kalau dikatakan mempunyai kartu anggota, saya baru menjadi muhammadiyah tahun 2017. Kalau berdasar rekam fiqih saya menjadi muhammadiyah kelas 1 tsanawiyah, ketika saya mengubah niat sholat dari "nawaitu" menjadi "bismillah" ala2 tarjih. Kalau dikatakan karena keluarga saya muhammadiyah, sebenarnya keluarga inti saya tidak ada yg menjadi kepengurusan Muhammadiyah. Saat menulis ini, saya bertanya2 kembali apa sebab saya menjadi muhammadiyah, dan saya tidak bertemu jawaban yg pasti.
Saya berefleksi, jika menjadi muhammadiyah adalah ketika menjadi kader ideologis, jujur banyak tindak-tanduk saya yg tidak muhammadiyah.
Bahkan sampai pada kesimpulan: "Jangan2 saya memang belum menjadi muhammadiyah?"
Jika begitu, karena belum menjadi muhammadiyah,
saya hanya ingin mengabdi pada muhammadiyah saja. Pengabdian itu dgn menghidupi muhammadiyah dari diri sendiri kemudian pada ortom. Setidaknya alasan yg bisa dibuat2 agar dicap menjadi muhammadiyah adalah karena unsur pengabdian itu.Dan saya bersaksi tekad pengabdian itu saya temukan dari pengabdian Muhammadiyah. Betapa luar biasa pengabdiannya untuk agama dan kemanusiaan. #TerimaKasihMuhammadiyah #Milad108
Manusia Satu Perspektif
Ternyata kita memang dicipta untuk menilai dari satu perspektif. Saya kira demikian serta merta agar kita mencari perspektif lain. Agar pula titah Sang Maha yang menyuruh kita untuk mencari tahu (mencari ilmu/membaca) dapat kita lakukan. Tidak mengetahui perspektif lain sama saja membuat bencana. Hal itu dikarenakan kita tidak saling paham dan sehingga dapat salah paham. Mungkin tanpa hasutan nafsu, salah paham adalah sebab utama masalah dalam sejarah manusia. Siapa yang kira setengah juta kawula nusantara awal orba mati karena salah paham dewan jendral. Andai saya dikasih satu permintaan yang pasti dikabulkan sebagai syarat "kedamaian," kelak saya memohon manusia memiliki sejuta perspektif. *** Ah, nampaknya tidak juga. Saya hanya membual dengan perspektif sendiri soal syarat "kedamaian" itu.
Langganan:
Postingan (Atom)