Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~
Senin, 23 November 2020
Jujurnya Orator
Ada seorang rekan, bisa dikatakan sebagai singanya podium. Orator ulung, bukan main kalau beretorika. Namun berbeda beberapa bulan ini. Biasanya cakap banyak, menjadi cenderung banyak diamnya. Respon terhadap kata2 orang lain pun terkadang hanya mengangguk. Wajar bila mengira ada perubahan psikologis yang besar, sehingga sang pandai cakap jadi pandai diam. Wajar pula jika rekannya mengira dia punya masalah besar.Sampai pada sebuah lingkar diskusi, isunya hangat, kalau tidak salah terkait Pancasila. Sudah rindu ingin melihat kawan ini bersilat lidah. Saat forum, retorikanya pun memburuk (menurut saya), beberapa kali seperti terbata memikirkan kata yang tepat untuk diucap. Kemudian saya temui rekan ini, menanyakan perihal apa dan mengapa. Rautnya saat menjawab pun berbeda. "Seharusnya kalau sudah segini perjalanan intelektual kita, tidak perlu berajang pamer retorika. Saya lebih tidak puas mengungkapkan definisi yang keliru dan mengelirukan orang lain, daripada tampak memukai di forum. Retorika banyak hanya menipu orang saja, padahal intelektualisme perlu kejujuran dalam logika dab kata-kata."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berdialog