Agar asik ditemani cover musik oleh ECLAT, niatnya biar energi dan mood nulis jadi banter.
Ya pokoknya gitu, malam ini saya tidak betul-betul niat buat ngetik postingan.
Cuma bisik hati saya rugi kalau sudah berbulan-bulan enggak nulis perihal pribadi,
apalagi di blogger yang enam tahun lalu saya janjikan bakal menjadi teman hidup saya.
***
Dua minggu lalu (kalau gak salah ya), saya iseng membuka postingan di platform blogger yang pernah saya tulis.
Kesimpulan yang saya tangkap pertama kali ternyata kualitas tulisan saya sedikit berkembang.
Berkembang hanya soal tanda baca sih sebenarnya, misal dulu saya sembarang menulis huruf besar-kecil, atau soal tanda-tanda baca yang jauh dari kaidah tata bahasa indonesia yang baik.
Asli, selebihnya tidak ada~
Namun tulisan-tulisan saya bertahun-tahun lalu seakan mengetuk kesadaran saya.
Pada bab-bab nasihat untuk diri sendiri, ketika membacanya,
saya menemukan nasihat yang betul menggugah.
Akibat itu saya mengencangkan lagi pola hidup dan arah hidup yang kian amburadul.
Sedikit contohnya adalah saya yang sekarang ini jauh dari kata religius.
Mungkin untuk karib yang baru bertemu dengan saya saat jenjang perkuliahan mempunyai impresi terhadap saya sebagai mahasiswa yang urak-urakan.
Diri ini sendiri pun merasa demikian.
Sekarang saya coba-coba lagi menjadi 'agak' religius.
Tapi, susah.
Saya seakan menemukan diri saya dulu berbeda dengan diri saya sekarang yang sedang mengetik postingan ini.
Mungkin dulu saya agak religius karena faktor anak pondok.
Sudah begitu di pondok keseharian bergaul dengan teman-teman kelas MAK.
Sudah begitu anak-anak MAK yang punya target menjadi alim-ulama', minimal menjadi lulusan timur tengah.
Sudah begitu, saya pun begitu.
Berpola hidup dan target hidup seperti rekan-rekan MAK.
Potongan bait yang sangat menyentuh adalah terkait cinta pada yang di-Atas.
Ketika itu saya berefleksi setelah melihat indahnya cipataannya, saya berkesimpulan apalagi (indahnya) Dia yang menciptakan.
Adapula refleksi diri saya atas wujud ketaatan kepada yang di-Atas, apakah ketaatan karena surganya, ataukah ketaatan karena kasih dan segala yang dia beri.
Sekarang boro-boro berbicara soal cinta dan taat karena apa, menjadi taat saja sudah susah :).
Sekali lagi saya betul-betul merasa menjadi diri yang jauh berbeda dengan yang dulu.
Sedikit harap ingin memperbaiki diri lagi, sekalipun harap saya sedikit, saya yakin harap ini kuat.
Tulisan-tulisan saya dahulu yang menggugah harap ini, dan membuat saya berefleksi sejauh ini.
Termasuk niat nulis yang saya paksa-paksakan malam ini.
Ini tidak lain berasal dari pelajaran yang saya ambil dari tulisan saya dulu.
Tentu tulisan ini akan saya baca lagi pada bertahun-tahun kedepan.
Dan berpola menjadi wujud reflektif atas diri saya sendiri kedepan pula.
***
Jadikan dirimu saat ini menjadi refleksi atas dirimu di masa depan.
Maksudnya, tulisanmu saat ini adalah dirimu saat ini, tulisanmu dulu adalah dirimu dahulu.
Kamu akan menemukan sisi dirimu yang berbeda sejalan berkembangnya usia.
Ajak dirimu yang dulu untuk menasihati dirimu saat ini, atau calon dirimu di masa depan dengan mengabdikan nilai dan hikmah melalui tulisan.
Karena yang terbaik yang bisa menasihatimu adalah dirimu sendiri.
.
.
.
.
.
.
Salam untuk Aku di masa mendatang,
dari Fayasy seorang mahasiswa tua di sebuah kamar kontrakan di Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berdialog