Kala itu bersama sunyi kau tundukkan raga dan ruh mu.
Tampak kelopak matamu mengalirkan tetes cinta,
sembari menghayati alam yang penuh kekhusyukkan,
hampir-hampir tak terpikir apapun kecuali untuknya,
Bahkan di sela lelahmu kau sempatkan tuk terus berpuisi untuknya.
Puji-pujian kau lantunkan dari lembar yang kau jaga agar sedikitpun tak ternodai.
Sepenuhnya hidupmu kau pasrahkan dan tujukan untuknya.
--
Malam baru tiba selepas mentari ucap pamit.
Seperti biasa, ia pamit dengan pesan untukmu tuk kembali berpuisi,
agar melantunkan kembali romantisme cinta.
Namun kau sudah berbeda,
tidak pernah lagi terlihat dirimu bersujud mesra dengan kesungguhan,
menengadahkan tangan pun tidak,
apalagi cinta yang terwujud dengan keikhlasan.
Bodoh, kau lupa dengan isi puisi indah yang terlantun dari firmannya.
Kembalilah.
Aku harap tidak akan berlama manjadi "Kau."