Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~

Jumat, 20 Oktober 2017

bisik gempita

ditemani hujan, malam ini berbisik kepadaku
tentang bayang gelap masa depan
membisikkanku agar selalu membawa pelita
karena sekedar api dari korek pemantik tak berguna

dingin pun bercerita
dengan bahasa hati yang tak bisa di nalar dengan rasio

dulu

cuih

huh drama
berkata-kata, banyak janji
berbuat ini itu, banyak mimpi
sampah di atas bukit
hanya tampak tinggi saja
kotor, bangga

Temani Aku

Bak berjalan di celah bukit curam
aku perlu bergandeng tangan
Mungkin kelingking pun tak apa, aku sentuh

Gemuruh dimana-mana
Berkata aku terbata-bata
Kaki berat tuk melangkah
Gelap, aku tak tahu jalan

Temani aku
Karena aku sadar, ada waktunya tuk sendiri

Siswa yang Maha

Kini aku tegak dengan dada bertuliskan mahasiswa, bukan santri lagi.
Aku akan berhadapan dengan banyak kalangan dengan pandangan hidup yang berbeda, bahkan sangat berbeda denganku, Islam tulen.
Aku punya tekad, agar di masa kejayaan ku nantinya untuk tetap mengamalkan apa yang aku dapat dari para asatidz ku dulu, dan juga dari kehidupan keras yang dulu pernah aku tempa.

Aku mendapat butir hikmah agar jangan membenci sebelum mengetahui, akan ku amalkan.

jangan jadi rakyat berjuluk hina


jangan jadi rakyat berjuluk hina
tersiksa dibawah telapak kaki cukong biadab
jika kita menggunakan falsafah islam nan mulia
semua kalangan sama derajatnya kala saling menatap bumi.

diusia yang lebih dari setengah abad
keadilan dan kemanusiaan di negeri kita tidak patut lagi diperjuangkan
karena seharusnya cukup kita kembangkan

jangan jadi rakyat berjuluk hina
mari kita bersibuk diri belajar
mari bersibuk diri bergerak.