Di ruang kuliah (hukum tata negara) sering terdengar perbincangan mengenai standar nilai dalam masyarakat. Saya hampir tidak _ngeh_ terkait wujud nilai itu. Palingan seputar standar kesopanan, ah kalau tidak paling ya soal adat yang begitu2 saja. Mungkin karena saya mmg tidak terlalu dekat dengan yang dibincangkan org sebagai nilai itu, karena sdh hampir 10 tahun tinggal di kota perantauan. Tapi saya baru sadar, bahwa nilai itu mmg tidak jauh dari identitas seseorang, termasuk saya jika ingin menemui nilai2 itu setidaknya harus bertemu dgn masyarakat dlm lingkup yang paling dekat, keluarga setidaknya.
Hanyasaja saya mmg org dasarnya yg tidak tertarik hal status quo masyarkat dan keluarga. Sehingga sering abai soal itu. Masih penasaran apa itu nilai? Saya akhirnya sadar apa itu nilai yg dimaksud, sebenarnya tidak paham hanya menyadari (mbatin) saja.
Biasa, kalau kumpul2 keluarga tidak terlepas dari candatawa & umpat kasih. Apalagi antar sepupu sesama anak om, tentu terselip nasihat & rasa iba dlmnya. Kakak perempuan saya memulai dgn
cerita kisah idup seorang sepupu yg membuat kami terharu. Sesekali diselipi canda tawa kemudian bersambung kpd cerita mengenai rencana2 hidup kedepan sesama keluarga yg hidup di rantau. Saya tidak pernah menyangka bahwa obrolan santai itu bakal mengetuk hati, saya pribadi punya target & rencana hidup (tidak disertai nilai2 itu). Kekeh ingin mencapai target itu. Namun sore tadi nasihat abang saya kepada saya, kedepan ada kasih yg harus disebar kepada kerabat2 dekat, kepada paman-bibi, saudara, ponakan, kepada orang tua pasti. Termasuk jika memilih langkah hidup kedepan pikirkan langkahmu apakah sesuai untuk mereka2 yg setidaknya sudah berjasa untukmu sejak lahir hingga kau mati nanti. Dari situ saya adanya wujud nilai itu. Letaknya berada di hati (metafisik), sehingga nilai itu mengetuk hati. Sulit dijelaskan, saya yakin kawan sekalian punga nilai2 yg menjadi standar dalam bertindak. Obrolan itu berpuncak pada saya yg memohon agar kakak perempuan untuk jgn cepat2 jauh dari kami (berkeluarga). Saya orangnya gengsi, apalagi sama keluarga kandung, tapi oleh karena nilai itu saya berani bercakap dan berlinang terkait itu kepada kakak saya. Untung kakak saya menjawab dengan canda, kalau tidak mungkin saya dan abang saya sudah tambah haru sejadi2nya. Nilai itu memang harus ada dalam tindakan, jika tidak bertindak aesuai setidaknya berpedoman kepada nilai2 itu. Barangkali dalam nilai2 itu kebahagiaanmu dapat tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berdialog