Bung! Sempatkan ingat Tuhan, Ingat Jejak Digital juga~

Selasa, 01 Februari 2022

Dua catatan sebelum fajar

*Pertama,* habiskan dulu jatah tidurmu. Jangan setengah2 begitu, kasian orang yg menunggumu di esok hari. Jangan hadirkan wajah kusut pada mereka. *Kedua,* efisien, berpikir telalu panjang hanya menunda dirimu untuk segera bertindak. Kau harus terbuka dan menerima. Ada banyak kekurangan dalam segala hal, bahkan dari keputusan terbaik sekalipun.

Jumat, 21 Januari 2022

Sampai kapan anda disini?

Halo Quarter Life Crisis, saya masih ndak percaya anda benar adanya. Sampai kapan anda mau menemani sarjana muda ini?

***

Ada dua hal yang menurut saya harus diseriusi selain bakti pada orang tua. Pertama karir, kedua jodoh. Meramu keduanya dengan baik, akan menghasilkan kebaikan pada sisa hidup saya. Untuk itu saya mau cukup serius dalam hal itu. Bahkan dengan kualitas ibadah saya  yang sedang buruk saat ini, saya harap kedua itu menjadi variabel yang membuat saya baik soal akhirat.

Serius, terlalu serius tampaknya untuk pemuda yang aslinya cengengesan ini.

Saking seriusnya, keseriusan itu berubah menjadi canda. Akhirnya dalam canda itu saya tidak betul-betul jelas untuk meramu karir, terlalu banyak pilihan, pilin-plan, takut ambil risiko, memikir gengsi dan bercandaan lainnya.

Aduh, pun dalam hal jodoh. 

***

Saya tidak tahu siapa yang sesekali iseng membaca tulisan-tulisan saya dalam blog pribadi ini.  Barangkali pembaca, jika seumuran dengan saya juga mengalami QLC.

Sebenarnya saya juga bingung; Bagaimana merespon kondisi ini, mungkin anda juga? apalagi kalau anda tersandera ekspektasi diri sendiri (ingin ini/itu) atau ekspektasi orang lain (memandang anda panutan, misal). Sehingga dalam QLC kita tetap ingin sok keren, tetap ingin tampak gagah dengan mimpi-mimpi, gengsi pada nasib yang sebenarnya merana.

Pernah saya tuliskan di tembok putih kamar saya, pakai spidol hitam tebal, "teruslah berporses, tidak semua bunga mekar bersamaan." 

Saya masih menanti sembari bertanya bagaimana bunga ini akan mekar nantinya, pupuk apa yang harus saya cari, serangga jenis apa yang bisa mempercepat penyerbukan.

Sembari saya selesaikan hal-hal penting di depan mata.

 


Kamis, 31 Desember 2020

Penutup 2020

Hening, tidak seperti di luar sana yg ramai sekali. Entah kenapa tidak ada gairah mengistimewakan perayaan tahun baru. Tapi saya pikir tidak istimewa bagaimana tahun 2020 ini, sampai2 tidak mau merayakan pergantian tahun. Saya kira cerita tentang 2020 akan menjadi sesuatu yg luar biasa utk dibagikan kepada anak cucuk besok-lusa. Yasudah, karena tidak ikutan keluar duduk merayakan tahun baru, saya iseng mengingat momen terbaik yg pantas dijadikan kaleidoskop tahunan. Setelah mencari2 sembari tertunduk memainkan kaki, saya tidak menemukan momen yg pantas disebut terbaik dan sangat membahagiakan. Seperti kalian mungkin, tahun 2020 ini banyak kekecewaan. Banyak target melesat, banyak diluar ekspektasi, banyak membuat down, apa jangan2 itu yg terbaik untuk 2020? Hal2 yang saya rasa negatif ini mungkin pelipur hati kedepannya untuk belajar menerima keadaan.

Minggu, 29 November 2020

Menikmati Tugas Akhir

Bersama niat agar bisa mengerjakan tugas akhir dengan efisien, saya iseng menata bahan2 di kontrakan yg bisa dijadikan sumber. Setelah beberapa hari lalu membuka satu persatu dan menemukan materi yg bersangkutan dgn skripsi, saya mulai menumpuknya di atas meja samping kasur berjejeran dengan laptop. Maksud hati menjadikan sudut kamar ini tempat ndekem ternyaman (lebih nyaman mungkin) untuk masa akhir perkuliahan ini, daripada harus bolak-balik menuju perpustakaan mencari buku. Sedikit prinsip saya tugas akhir harus "dinikmati," tentu skripsi besar kemungkinan hanya sekali seumur hidup, nanggung juga sudah letih mengetik banyak tapi tidak dinikmati. Menikmati sedari memilih judul, pengerjaan, atau bahkan tambah menikmati dengan membantu bahan skripsi satu-dua kawan. Layar laptop itu menampilkan cuplikan one piece, tidak ada filosofi atau kaitan dari anime itu dengan skripsi saya, kalau dikait2kan mungkin (hmm) saya ingin bisa berkutat dgn tugas ini senikmat menyantap episode2 petualang bajak laut mugiwara.

Senin, 23 November 2020

Syair Dimu (Dirimu)

Dimu memukau dengan premis indahmu. Tapi mungkin aku belum bertemu dimu. Dimu santun dengan tindak-tandukmu, tapi aku tak tahu dimana saat ini dimu berada . Dimu penyejuk dalam lelahku, menghasut buang bebanku. Tapi mungkin kita belum mengenali masing2, atau mungkin hanya belum mengenal lebih dalam. Kita yang masing2 saat ini saling bertanya, bagaimana kelak kita berjumpa. Untuk dimu yg kelak membersamaiku jaga diri baik-baik, tempuh garis hidup itu hingga titik dimana kita bertemu.
Begitupun aku, akan aku tempuh sisi lain ruas garis ini dengan baik, sampai dimana dua ruas ini menyatu. Kemudian kita membangun dan mewujudkan utopia bersama dalam satu ruas garis itu.

Nilai

Di ruang kuliah (hukum tata negara) sering terdengar perbincangan mengenai standar nilai dalam masyarakat. Saya hampir tidak _ngeh_ terkait wujud nilai itu. Palingan seputar standar kesopanan, ah kalau tidak paling ya soal adat yang begitu2 saja. Mungkin karena saya  mmg tidak terlalu dekat dengan yang dibincangkan org sebagai nilai itu, karena sdh hampir 10 tahun tinggal di kota perantauan. Tapi saya baru sadar, bahwa nilai itu mmg tidak jauh dari identitas seseorang, termasuk saya jika ingin menemui nilai2 itu setidaknya harus bertemu dgn masyarakat dlm lingkup yang paling dekat, keluarga setidaknya. 
Hanyasaja saya mmg org dasarnya yg tidak tertarik hal status quo masyarkat dan keluarga. Sehingga sering abai soal itu. Masih penasaran apa itu nilai? Saya akhirnya sadar apa itu nilai yg dimaksud, sebenarnya tidak paham hanya menyadari (mbatin) saja. 

 Biasa, kalau kumpul2 keluarga tidak terlepas dari candatawa & umpat kasih. Apalagi antar sepupu sesama anak om, tentu terselip nasihat & rasa iba dlmnya. Kakak perempuan saya memulai dgn
cerita kisah idup seorang sepupu yg membuat kami terharu. Sesekali diselipi canda tawa kemudian bersambung kpd cerita mengenai rencana2 hidup kedepan sesama keluarga yg hidup di rantau. Saya tidak pernah menyangka bahwa obrolan santai itu bakal mengetuk hati, saya pribadi punya target & rencana hidup (tidak disertai nilai2 itu). Kekeh ingin mencapai target itu. Namun sore tadi nasihat abang saya kepada saya, kedepan ada kasih yg harus disebar kepada kerabat2 dekat, kepada paman-bibi, saudara, ponakan, kepada orang tua pasti. Termasuk jika memilih langkah hidup kedepan pikirkan langkahmu apakah sesuai untuk mereka2 yg setidaknya sudah berjasa untukmu sejak lahir hingga kau mati nanti. Dari situ saya adanya wujud nilai itu. Letaknya berada di hati (metafisik), sehingga nilai itu mengetuk hati. Sulit dijelaskan, saya yakin kawan sekalian punga nilai2 yg menjadi standar dalam bertindak. Obrolan itu berpuncak pada saya yg memohon agar kakak perempuan untuk jgn cepat2 jauh dari kami (berkeluarga). Saya orangnya gengsi, apalagi sama keluarga kandung, tapi oleh karena nilai itu saya berani bercakap dan berlinang terkait itu kepada kakak saya. Untung kakak saya menjawab dengan canda, kalau tidak mungkin saya dan abang saya sudah tambah haru sejadi2nya. Nilai itu memang harus ada dalam tindakan, jika tidak bertindak aesuai setidaknya berpedoman kepada nilai2 itu. Barangkali dalam nilai2 itu kebahagiaanmu dapat tercapai.

Jujurnya Orator

Ada seorang rekan, bisa dikatakan sebagai singanya podium. Orator ulung, bukan main kalau beretorika. Namun berbeda beberapa bulan ini. Biasanya cakap banyak, menjadi cenderung banyak diamnya. Respon terhadap kata2 orang lain pun terkadang hanya mengangguk. Wajar bila mengira ada perubahan psikologis yang besar, sehingga sang pandai cakap jadi pandai diam. Wajar pula jika rekannya mengira dia punya masalah besar.Sampai pada sebuah lingkar diskusi, isunya hangat, kalau tidak salah terkait Pancasila. Sudah rindu ingin melihat kawan ini bersilat lidah. Saat forum, retorikanya pun memburuk (menurut saya), beberapa kali seperti terbata memikirkan kata yang tepat untuk diucap. Kemudian saya temui rekan ini, menanyakan perihal apa dan mengapa. Rautnya saat menjawab pun berbeda. "Seharusnya kalau sudah segini perjalanan intelektual kita, tidak perlu berajang pamer retorika. Saya lebih tidak puas mengungkapkan definisi yang keliru dan mengelirukan orang lain, daripada tampak memukai di forum. Retorika banyak hanya menipu orang saja, padahal intelektualisme perlu kejujuran dalam logika dab kata-kata."